Tampilkan postingan dengan label Systemic Thinking isme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Systemic Thinking isme. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Juni 2011

Cuplikan pidato BJ Habiebie tentang Pncasila

Jakarta - Mantan Presiden BJ Habibie mengungkapan secara tepat analisanya mengenai penyebab nilai-nilai Pancasila yang seolah-olah diabaikan pasca era reformasi. Tak heran bila pidato yang disampaikannya secara berapi-api itu memukau para hadirin puncak peringatan Hari Lahir Pancasila.

Acara itu dihadiri oleh Presiden Kelima Megawati dan Presiden SBY. Mereka berpidato bergiliran. Berikut ini teks pidato lengkap Habibie yang disampaikan dalam acara yang digelar di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (1/6/2011).

Assalamu ‘alaikum wr wb, salam sejahtera untuk kita semua.

Hari ini tanggal 1 Juni 2011, enam puluh enam tahun lalu, tepatnya 1 Juni 1945, di depan sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Bung Karno menyampaikan pandangannya tentang fondasi dasar Indonesia Merdeka yang beliau sebut dengan istilah Pancasila sebagai philosofische grondslag (dasar filosofis) atau sebagai weltanschauung (pandangan hidup) bagi Indonesia Merdeka.

Selama enam puluh enam tahun perjalanan bangsa, Pancasila telah mengalami berbagai batu ujian dan dinamika sejarah sistem politik, sejak jaman demokrasi parlementer, demokrasi terpimpin, era Orde Baru hingga demokrasi multipartai di era reformasi saat ini. Di setiap jaman, Pancasila harus melewati alur dialektika peradaban yang menguji ketangguhannya sebagai dasar filosofis bangsa Indonesia yang terus berkembang dan tak pernah berhenti di satu titik terminal sejarah.

Sejak 1998, kita memasuki era reformasi. Di satu sisi, kita menyambut gembira munculnya fajar reformasi yang diikuti gelombang demokratisasi di berbagai bidang. Namun bersamaan dengan kemajuan kehidupan demokrasi tersebut, ada sebuah pertanyaan mendasar yang perlu kita renungkan bersama: Di manakah Pancasila kini berada?

Pertanyaan ini penting dikemukakan karena sejak reformasi 1998, Pancasila seolah-olah tenggelam dalam pusaran sejarah masa lalu yang tak lagi relevan untuk disertakan dalam dialektika reformasi. Pancasila seolah hilang dari memori kolektif bangsa. Pancasila semakin jarang diucapkan, dikutip, dan dibahas baik dalam konteks kehidupan ketatanegaraan, kebangsaan maupun kemasyarakatan. Pancasila seperti tersandar di sebuah lorong sunyi justru di tengah denyut kehidupan bangsa Indonesia yang semakin hiruk-pikuk dengan demokrasi dan kebebasan berpolitik.

Mengapa hal itu terjadi? Mengapa seolah kita melupakan Pancasila?

Para hadirin yang berbahagia,

Ada sejumlah penjelasan, mengapa Pancasila seolah "lenyap" dari kehidupan kita. Pertama, situasi dan lingkungan kehidupan bangsa yang telah berubah baik di tingkat domestik, regional maupun global. Situasi dan lingkungan kehidupan bangsa pada tahun 1945 -- 66 tahun yang lalu -- telah mengalami perubahan yang amat nyata pada saat ini, dan akan terus berubah pada masa yang akan datang. Beberapa perubahan yang kita alami antara lain:
(1) terjadinya proses globalisasi dalam segala aspeknya;
(2) perkembangan gagasan hak asasi manusia (HAM) yang tidak diimbagi dengan kewajiban asasi manusia (KAM);
(3) lonjakan pemanfaatan teknologi informasi oleh masyarakat, di mana informasi menjadi kekuatan yang amat berpengaruh dalam berbagai aspek kehidupan, tapi juga yang rentan terhadap "manipulasi" informasi dengan segala dampaknya.

Ketiga perubahan tersebut telah mendorong terjadinya pergeseran nilai yang dialami bangsa Indonesia, sebagaimana terlihat dalam pola hidup masyarakat pada umumnya, termasuk dalam corak perilaku kehidupan politik dan ekonomi yang terjadi saat ini. Dengan terjadinya perubahan tersebut diperlukan reaktualisasi nilai-nilai pancasila agar dapat dijadikan acuan bagi bangsa Indonesia dalam menjawab berbagai persoalan yang dihadapi saat ini dan yang akan datang, baik persoalan yang datang dari dalam maupun dari luar. Kebelum-berhasilan kita melakukan reaktualisasi nilai-nilai Pancasila tersebut menyebabkan keterasingan Pancasila dari kehidupan nyata bangsa Indonesia.

Kedua, terjadinya euphoria reformasi sebagai akibat dari traumatisnya masyarakat terhadap penyalahgunaan kekuasaan di masa lalu yang mengatasnamakan Pancasila. Semangat generasi reformasi untuk menanggalkan segala hal yang dipahaminya sebagai bagian dari masa lalu dan menggantinya dengan sesuatu yang baru, berimplikasi pada munculnya ‘amnesia nasional' tentang pentingnya kehadiran Pancasila sebagai grundnorm (norma dasar) yang mampu menjadi payung kebangsaan yang menaungi seluruh warga yang beragam suku bangsa, adat istiadat, budaya, bahasa, agama dan afiliasi politik. Memang, secara formal Pancasila diakui sebagai dasar negara, tetapi tidak dijadikan pilar dalam membangun bangsa yang penuh problematika saat ini.

Sebagai ilustrasi misalnya, penolakan terhadap segala hal yang berhubungan dengan Orde Baru, menjadi penyebab mengapa Pancasila kini absen dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Harus diakui, di masa lalu memang terjadi mistifikasi dan ideologisasi Pancasila secara sistematis, terstruktur dan massif yang tidak jarang kemudian menjadi senjata ideologis untuk mengelompokkan mereka yang tak sepaham dengan pemerintah sebagai "tidak Pancasilais" atau "anti Pancasila" . Pancasila diposisikan sebagai alat penguasa melalui monopoli pemaknaan dan penafsiran Pancasila yang digunakan untuk kepentingan melanggengkan kekuasaan. Akibatnya, ketika terjadi pergantian rezim di era reformasi, muncullah demistifikasi dan dekonstruksi Pancasila yang dianggapnya sebagai simbol, sebagai ikon dan instrumen politik rezim sebelumnya. Pancasila ikut dipersalahkan karena dianggap menjadi ornamen sistem politik yang represif dan bersifat monolitik sehingga membekas sebagai trauma sejarah yang harus dilupakan.

Pengaitan Pancasila dengan sebuah rezim pemerintahan tententu, menurut saya, merupakan kesalahan mendasar. Pancasila bukan milik sebuah era atau ornamen kekuasaan pemerintahan pada masa tertentu. Pancasila juga bukan representasi sekelompok orang, golongan atau orde tertentu. Pancasila adalah dasar negara yang akan menjadi pilar penyangga bangunan arsitektural yang bernama Indonesia. Sepanjang Indonesia masih ada, Pancasila akan menyertai perjalanannya. Rezim pemerintahan akan berganti setiap waktu dan akan pergi menjadi masa lalu, akan tetapi dasar negara akan tetap ada dan tak akan menyertai kepergian sebuah era pemerintahan!

Para hadirin yang berbahagia,

Pada refleksi Pancasila 1 Juni 2011 saat ini, saya ingin menggarisbawahi apa yang sudah dikemukakan banyak kalangan yakni perlunya kita melakukan reaktualisasi, restorasi atau revitalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama dalam rangka menghadapi berbagai permasalahan bangsa masa kini dan masa datang. Problema kebangsaan yang kita hadapi semakin kompleks, baik dalam skala nasional, regional maupun global, memerlukan solusi yang tepat, terencana dan terarah dengan menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai pemandu arah menuju hari esok Indonesia yang lebih baik.

Oleh karena Pancasila tak terkait dengan sebuah era pemerintahan, termasuk Orde Lama, Orde Baru dan orde manapun, maka Pancasila seharusnya terus menerus diaktualisasikan dan menjadi jati diri bangsa yang akan mengilhami setiap perilaku kebangsaan dan kenegaraan, dari waktu ke waktu. Tanpa aktualisasi nilai-nilai dasar negara, kita akan kehilangan arah perjalanan bangsa dalam memasuki era globalisasi di berbagai bidang yang kian kompleks dan rumit.

Reformasi dan demokratisasi di segala bidang akan menemukan arah yang tepat manakala kita menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam praksis kehidupan berbangsa dan bernegara yang penuh toleransi di tengah keberagaman bangsa yang majemuk ini. Reaktualisasi Pancasila semakin menemukan relevansinya di tengah menguatnya paham radikalisme, fanatisme kelompok dan kekerasan yang mengatasnamakan agama yang kembali marak beberapa waktu terakhir ini. Saat infrastruktur demokrasi terus dikonsolidasikan, sikap intoleransi dan kecenderungan mempergunakan kekerasan dalam menyelesaikan perbedaan, apalagi mengatasnamakan agama, menjadi kontraproduktif bagi perjalanan bangsa yang multikultural ini. Fenomena fanatisme kelompok, penolakan terhadap kemajemukan dan tindakan teror kekerasan tersebut menunjukkan bahwa obsesi membangun budaya demokrasi yang beradab, etis dan eksotis serta menjunjung tinggi keberagaman dan menghargai perbedaan masih jauh dari kenyataan.

Krisis ini terjadi karena luruhnya kesadaran akan keragaman dan hilangnya ruang publik sebagai ajang negosiasi dan ruang pertukaran komunikasi bersama atas dasar solidaritas warganegara. Demokrasi kemudian hanya menjadi jalur antara bagi hadirnya pengukuhan egoisme kelompok dan partisipasi politik atas nama pengedepanan politik komunal dan pengabaian terhadap hak-hak sipil warganegara serta pelecehan terhadap supremasi hukum.

Dalam perspektif itulah, reaktualisasi Pancasila diperlukan untuk memperkuat paham kebangsaan kita yang majemuk dan memberikan jawaban atas sebuah pertanyaan akan dibawa ke mana biduk peradaban bangsa ini berlayar di tengah lautan zaman yang penuh tantangan dan ketidakpastian? Untuk menjawab pertanyaan itu, kita perlu menyegarkan kembali pemahaman kita terhadap Pancasila dan dalam waktu yang bersamaan, kita melepaskan Pancasila dari stigma lama yang penuh mistis bahwa Pancasila itu sakti, keramat dan sakral, yang justru membuatnya teraleinasi dari keseharian hidup warga dalam berbangsa dan bernegara. Sebagai sebuah tata nilai luhur (noble values), Pancasila perlu diaktualisasikan dalam tataran praksis yang lebih ‘membumi' sehingga mudah diimplementasikan dalam berbagai bidang kehidupan.

Para hadirin yang berbahagia,

Sebagai ilustrasi misalnya, kalau sila kelima Pancasila mengamanatkan terpenuhinya "keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia", bagaimana implementasinya pada kehidupan ekonomi yang sudah menggobal sekarang ini?

Kita tahu bahwa fenomena globalisasi mempunyai berbagai bentuk, tergantung pada pandangan dan sikap suatu Negara dalam merespon fenomena tersebut. Salah satu manifestasi globalisasi dalam bidang ekonomi, misalnya, adalah pengalihan kekayaan alam suatu Negara ke Negara lain, yang setelah diolah dengan nilai tambah yang tinggi, kemudian menjual produk-produk ke Negara asal, sedemikian rupa sehingga rakyat harus "membeli jam kerja" bangsa lain. Ini adalah penjajahan dalam bentuk baru, neo-colonialism, atau dalam pengertian sejarah kita, suatu "VOC (Verenigte Oostindische Companie) dengan baju baru".

Implementasi sila ke-5 untuk menghadapi globalisasi dalam makna neo-colnialism atau "VOC-baju baru" itu adalah bagaimana kita memperhatikan dan memperjuangkan "jam kerja" bagi rakyat Indonesia sendiri, dengan cara meningkatkan kesempatan kerja melalui berbagai kebijakan dan strategi yang berorientasi pada kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Sejalan dengan usaha meningkatkan "Neraca Jam Kerja" tersebut, kita juga harus mampu meningkatkan "nilai tambah" berbagai produk kita agar menjadi lebih tinggi dari "biaya tambah"; dengan ungkapan lain, "value added" harus lebih besar dari "added cost". Hal itu dapat dicapai dengan peningkatan produktivitas dan kualitas sumberdaya manusia dengan mengembangkan, menerapan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dalam forum yang terhormat ini, saya mengajak kepada seluruh lapisan masyarakat, khususnya para tokoh dan cendekiawan di kampus-kampus serta di lembaga-lembaga kajian lain untuk secara serius merumuskan implementasi nilai-nilai Pancasila yang terkandung dalam lima silanya dalam berbagai aspek kehidupan bangsa dalam konteks masa kini dan masa depan. Yang juga tidak kalah penting adalah peran para penyelenggara Negara dan pemerintahan untuk secara cerdas dan konsekuen serta konsisten menjabarkan implementasi nilai-nilai Pancasila tersebut dalam berbagai kebijakan yang dirumuskan dan program yang dilaksanakan. Hanya dengan cara demikian sajalah, Pancasila sebagai dasar Negara dan sebagai pandangan hidup akan dapat ‘diaktualisasikan' lagi dalam kehidupan kita.

Memang, reaktualisasi Pancasila juga mencakup upaya yang serius dari seluruh komponen bangsa untuk menjadikan Pancasila sebagai sebuah visi yang menuntun perjalanan bangsa di masa datang sehingga memposisikan Pancasila menjadi solusi atas berbagai macam persoalan bangsa. Melalui reaktualisasi Pancasila, dasar negara itu akan ditempatkan dalam kesadaran baru, semangat baru dan paradigma baru dalam dinamika perubahan sosial politik masyarakat Indonesia.

Para hadirin yang saya hormati,

Oleh karena itu saya menyambut gembira upaya Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang akhir-akhir ini gencar menyosialisasikan kembali empat pilar kebangsaan yang fundamental: Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI. Keempat pilar itu sebenarnya telah lama dipancangkan ke dalam bumi pertiwi oleh para founding fathers kita di masa lalu. Akan tetapi, karena jaman terus berubah yang kadang berdampak pada terjadinya diskotinuitas memori sejarah, maka menyegarkan kembali empat pilar tersebut, sangat relevan dengan problematika bangsa saat ini. Sejalan dengan itu, upaya penyegaran kembali juga perlu dilengkapi dengan upaya mengaktualisasikan kembali nilai-nilai yang terkandung dalam keempat pilar kebangsaan tersebut.

Marilah kita jadikan momentum untuk memperkuat empat pilar kebangsaan itu melalui aktualisasi nilai-nilai Pancasila sebagai weltanschauung, yang dapat menjadi fondasi, perekat sekaligus payung kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan membumikan nilai-nilai Pancasila dalam keseharian kita, seperti nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai permusyawaratan dan keadilan sosial, saya yakin bangsa ini akan dapat meraih kejayaan di masa depan. Nilai-nilai itu harus diinternalisasikan dalam sanubari bangsa sehingga Pancasila hidup dan berkembang di seluruh pelosok nusantara.

Aktualisasi nilai-nilai Pancasila harus menjadi gerakan nasional yang terencana dengan baik sehingga tidak menjadi slogan politik yang tidak ada implementasinya. Saya yakin, meskipun kita berbeda suku, agama, adat istiadat dan afiliasi politik, kalau kita mau bekerja keras kita akan menjadi bangsa besar yang kuat dan maju di masa yang akan datang.

Melalui gerakan nasional reaktualisasi nilai-nilai Pancasila, bukan saja akan menghidupkan kembali memori publik tentang dasar negaranya tetapi juga akan menjadi inspirasi bagi para penyelenggara negara di tingkat pusat sampai di daerah dalam menjalankan roda pemerintahan yang telah diamanahkan rakyat melalui proses pemilihan langsung yang demokratis. Saya percaya, demokratisasi yang saat ini sedang bergulir dan proses reformasi di berbagai bidang yang sedang berlangsung akan lebih terarah manakala nilai-nilai Pancasila diaktualisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Demikian yang bisa saya sampaikan. Terimakasih atas perhatiannya.

Wassalamu ‘alaikum wr wb.

Selasa, 29 Maret 2011

KECERDASAN MAJEMUK

Penelitian mutakhir mengenai seluk beluk OTAK makin membukakan mata kita mengenai kecerdasan otak manusia. Bahwa ternyata, kecerdasan manusia tidak dapat disimpulkan hanya dengan penilaian IQ saja. Menurut para ahli, nilai tes IQ hanya menggambarkan kualitas 2 jenis kecerdasan saja, yaitu: kecerdasan bahasa dan kecerdasan matematika.

Belakangan ini makin banyak penelitian yang mengusulkan bahwa tinggi rendahnya nilai tes IQ tidak bisa dipakai untuk meramalkan sukses seseorang ketika dewasa. Tes IQ bukan mengukur kualitas yang dibutuhkan untuk sukses dalam pekerjaan, seperti kemauan keras, percaya diri, motivasi maupun kecerdasan sosial.

Tes tersebut juga tak mampu mengukur kemampuan sesorang untuk menentukan prioritas, manajemen waktu dan efisiensi. Misalnya, kreatifitas dan intuisi yang merupakan hal utama dalam ilmu pengetahuan dan seni tidak bisa dinilai dari hasil tes IQ.

Sebagai contoh, kreatifitas seringkali melibatkan kemampuan untuk melihat beberapa pemecahan dalam suatu masalah. Sementara IQ mengharuskan pilihan tunggal untuk pemecahan suatu masalah.

Menurut teori mutakhir, yaitu teori kecerdasan majemuk yang diajukan Howard Gardner, terbukti bahwa ternyata terdapat lebih banyak kecerdasan lainnya, selain IQ yang selama ini dikenal. Hingga saat ini beberapa pakar pendidikan telah berhasil menemukan minimal 9 Jenis Kecerdasan. Inilah yang kemudian dikenal dengan Kecerdasan Majemuk atau Multiple Intelligences.

Apabila dipelajari dengan seksama, model kecerdasan Gardner tersebut akan sangat membantu dalam memetakan berbagai macam kecerdasan yang dimiliki setiap anak. Masingmasing jenis kecerdasan tersebut perlu dikembangkan seoptimal mungkin.

Caranya ? Ciptakanlah lingkungan yang menyenangkan dan bantulah anak menggunakan panca indra-nya untuk menumbuhkan semua kecerdasan itu. Jika anda telah mengusahakannya dengan optimal, maka bersiaplah untuk menerima hasil yang luar biasa yaitu:

Pertama, seluruh jenis kecerdasan anak akan tumbuh mencapai tingkat yang tinggi,

Kedua, bakat anak akan mudah teridentifikasi atau dikenali.

Dengan meraih kedua hal di atas, niscaya anak bertumbuh menjadi manusia seutuhnya, manusia dewasa yang mencapai potensi terbaiknya. Perlu diketahui bahwa setiap jenis kecerdasan bisa bertumbuh bersamaan hingga level yang sangat tinggi pada setiap anak, dan bahkan, dengan metode yang tepat anak bisa sampai ke pencapaian tingkat prestasi yang luar biasa.

Kecerdasan majemuk yang tinggi tersebut, jika dibarengi dengan bakat yang dirawat dengan optimal, maka akan membawa anak ke prestasi sekelas world champion namun tetap dapat menikmati hidupnya secara utuh.

Adapun 9 bentuk kecerdasan yang hingga saat ini dikenali, yang dimiliki setiap anak antara lain:
1.Kecerdasan Linguistik
2. Kecerdasan Matematis-Logis
3. Kecerdasan Visual-Spasial
4. Kecerdasan Kinestetik-Jasmani
5. Kecerdasan Musikal
6. Kecerdasan Interpersonal
7. Kecerdasan Intrapersonal
8. Kecerdasan Naturalis
9. Kecerdasan Eksistensial

Adanya 9 kecerdasan ini menuntut orang tua dan para pengajar untuk menyesuaikan cara pendidikan anak sesuai dengan kecerdasan dominan anak. Saran saya, biarlah anak memilih aktifitas yang dia sukai, karena dengan berlandaskan rasa suka (fun) maka ia akan menyerap pelajaran dengan lebih optimal. Rasa suka itu timbul karena aktivitas tersebut sesuai dengan kecerdesan dominannya.

Sumber: http://resourceful-parenting.blogspot.com/

Dapatkan informasi tentang parenting, dan pendidikan berbasis otak di http://resourceful-parenting.blogspot.com/

Sabtu, 19 Maret 2011

Muhammad, khoirul bariyyah (manusia hebat sepnjang zaman)

Empat belas abad berlalu sejak kepergian manusia termulia sepanjang zaman. Pemimpin peradaban dunia. Sang pembawa kedamaian dan penerang bagi semesta alam. Pembawa risalah Allah Subhanallahu wa Ta’ala. yang memerintahkan manusia untuk beriman kepada Allah, dan beribadah hanya pada-Nya. Sosok pemuda cemerlang yang muncul dipanggung Arab yang gersang, sosok yang mampu berlaku jujur disaat dusta membiasa. Yang mampu mempersatukan dua suku yang telah mendarah daging saling berseteru. Yang manaikkan harkat dan derajat kaum hawa dari dominasi dan intimidasi kaum pria. Nabi yang mengajarkan umatnya untuk membaca, merindukan akhirat, berbuat dan bermanfaat bagi sesama. Manusia yang mendeklarasikan perang terhadap rasis, fasis, imperialis. Nabi yang juga ahli ekonomi, politik, militer, dan hukum sepanjang masa. Makhluk terjujur sejagat raya. Yang namanya selalu disebut dan di doakan umatnya dan jutaan buku mengkisahkan dirinya. Ia adalah Muhammad Salallahu ‘alaihi wa sallam.

Berikut para orientalis mendreskripsikan kemuliaan dirinya:

“Saya yakin, apabila orang semacam Muhammad memegang kekuasaan tunggal di dunia modern ini, dia akan berhasil mengatasi segala permasalahan sedemikian rupa sehingga kedamaian dan kebahagiaan yang dibutuhkan dunia akan tercapai…”. (Sir George Bernard Shaw)

“Dia adalah manusia teragung yang pernah menginjakkan kakinya di bumi ini. Dia membawa sebuah agama, mendirikan sebuah bangsa, meletakkan dasar-dasar moral, memulai sekian banyak gerakan pembaharuan sosial dan politik, mendirikan sebuah masyarakat yang kuat dan dinamis….”. (Sir George Bernard Shaw)

“Sejarah manusia tidak pernah mengenal transformasi sebuah masyarakat atau tempat sedahsyat ini. Bagaimana mungkin, sebuah transformasi yang begitu sangat luar biasa mampu dilakukan hanya dalam kurun waktu dua dekade”. (Sir George Bernard Shaw)

“Pilihan saya untuk menempatkan Muhammad pada urutan teratas mungkin mengejutkan semua pihak, tetapi dialah satu-satunya manusia yang telah sukses baik dalam tataran sekular maupun agama”. (Michael H. Hart, The 100 : A Ranking of The Most Influential Person in History, New York, 1978)

“Tiada lagi manusia dalam sejarah, yang melebihi atau bahkan menyamai Muhammad dalam setiap aspek kehidupan - hanya dengan kepribadian seperti dialah keagungan diraih”. (Lamar Tine, Histoire De la Turquie, Vol. 2, Paris, 1854).

“Betapa menakjublkan seorang manusia sendirian dapat mengubah suku-suku yang saling berperang dan kaum nomaden (baduy) menjadi sebuah bangsa yang paling berperadaban dan paling maju hanya dalam waktu kurang dari dua dekade”. (Thomas Carlyle).

“Kebohongan besar yang dipropagandakan barat yang diselimutkan kepada orang ini(Muhammad), hanyalah mempermalukan diri kita sendiri. Sesosok jiwa besar yang tenang, seorang yang mau tak mau harus di junjung tinggi, dia diciptakan untuk menerangi dunia…” (Thomas Carlyle)

Lantas, setelah mengetahui kesempurnaan Nabi Muhammad SAW dalam berbagai aspek, apakah kita tetap mengidolakan orang lain selain beliau? Apakah kita masih mengidolakan para artis-artis yang hanya menguras waktu kita? Menguras uang dan pikiran kita? Apakah dengan mengidolakan artis akan memuliakan kita di hadapan ALLAH Subhanahu wa ta’ala? Aapakah kita masih mengidolakan pemain-pemain sepak bola yang tidak jelas riwayat kehidupannya? Mari jadikan Rosulullah SAW sebagai idola sepanjang hidup kita. Karena hanya beliaulah yang pantas untuk di tiru dan di ikuti. Wallahu a’lam.

From : Aini Lutfiati, ST

Jumat, 18 Maret 2011

Berfikir Sistem

Pengenalan Pola Pikir Sistem
(Systemic Thinking For Solving Problem)
Samsul Arifin

Dinamika kehidupan manusia selalu dipenuhi dengan berbagai permasalahan. Tidak ada hidup yang tanpa masalah, jangan hidup kalau tidak mau punya masalah. Dan setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, sepelik dan rumit apapun masalahnya. Allah SWT juga tidak akan menakdirkan masalah bagi kita jika kita tidak mampu menyelesaikan masalah tersebut. Sebagai pijakan, dalam Alquran, dalam Al Baqoroh : 286,

      
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
Meskipun kita tidak akan diberikan masalah selain yang kita mampu menyelesaikannya, namun kita tetap diwajibkan untuk mengoptimalkan segala potensi yang kita miliki untuk menghadapi segala problema yang menimpa kehidupan kita. Sejalan dengan itu, usaha kit akan berbanding lurus dengan usaha kita. Jika kita berjalan, maka kita hanya mendapatkan nafas yang ter engah-engah setelah istirahat, namun jika kita berlari, dengan kecepatan tinggi, maka kita akan mendapatkan peluh yang membasahi seluruh tubuh kita. Segalanya berbanding lurus dan tidak akan ada yang terdzolimi dalam hal ini, kita pun tidak dapat menuntut sesuatu yang kita tidak mengusahakannya, ingin kaya, tidak bekerja, tidak mungkin terwujud. Ingin pandai tak belajar, nonsen. Ingin mendapatkan pangkat namun tidak mendedikasikan diri untuk pekerjaan secara maksimal, tidak mungkin tercapai. Kecuali segalanya dengan cara yang tidak wajar, dengan suap, dengan dukun, dengan profokasi, namun itu tidak sesuai dengan kaidah sistemik, yang akan kita bahas panjang dalam artikel ini (dalam perkembangannya artikel ini ingin saya buat dalam beberapa tahap untuk membuka wacana tentang kehebatan pola pikir sistem). Dalam keadaan wajar, kita hanya mendapatkan apa yang kita usahakan.

      
Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang Telah diusahakannya,(An Najm:29)


Sebuah keniscayaan, bagi kita untuk menyelesaikan segala permasalahan kita dengan upaya yang maksimal dan tuntas. Maksimal dalam arti dengan menggunakan cara yang paling tepat. Tuntas dalam arti tidak memunculkan permasalahan lain setelah satu permasalahan terselesaikan. Ada beberapa cara orang menyelesaikan permasalahan dari segi pola pikirnya, berikut macam-macam pola pikir tersebut beserta ilustrasinya:
a. Pola pikir sektoral, atau pola pikir pragmatis, yaitu pola pikir dengan penyelesaian masalah per sektor tanpa memperhatikan kaitan antar sektor, tanpa sharing, tanpa kompromi. Sebagai ilustrasi, seorang ketua OSIS, yang mendapati salah seorang pengurusnya berkurang loyalitasnya. Sering membangkang terhadap keputusan yang diambil forum, dan setelah disaring-saring, ternyata dia kurang bisa menerima kepemimpinan sang ketua. Orang yang berfikir sektoral, akan memandang ini sebagai biang masalah dan orang itu akan menghambat perkembangan organisasi. Ketua OSIS yang berfikir sektoral akan mengambil keputusan untuk meminta kepada sang pengurus untuk mengundurkan diri saja jika memang tidak puas dengan kepemimpinan sang ketua. Bahkan ketika semua pengurus ditanya, maka setiap pengurus juga akan setuju saja jika kehilangan satu teman yang memang tidak mempunyai loyalitas kepada pemimpin. Maka ini akan memunculkan permasalahan baru dalam metabolisme organisasi. Si pengurus yang dikeluarkan akan merasa tidak dihargai, merasa sang ketua tidak bijak dan pasti dia akan bercerita kepada setiap siapapun yang bertanya akan hal keluarnya dia dari organisasi. Dan sudah bisa dipastikan yang diceritakan oleh dia adalah yang buruk-buruk saja tentang si ketua, bahkan tentang semua pengurus. Orang hanya akan memandang omongan yang sampai ke telinganya saja, tanpa ada keinginan untuk klarifikasi (tabayyun) dan kebnyakan memang seperti itu. Akibatnya, kewibawaan organisasi menjadi berkurang, kadang akan keluar cemoohan dan celotehan yang tidak enak. Barang kali ini yang terkenal dengan peribahasa “akibat nila setitik, rusaklah susu sebelanga” meskipun dalam hal ini nila nya kemudian diambil, namun tetap saja susunya rusak karena sang nila bercerita tentang keadaan susu. Maka pola pikir sektoral tidak dapat diterima sebagai pola pikir yang baik untuk menyelesaikan masalah.
b. Pola pikir temporal, atau pola pikri insidental, yaitu pola pikir dengan ciri menganalisis masalah, mengambil keputusan, merekomendasikan solusi, dan mengimplementasikan rekomendasi tersebut secara temporal untuk waktu tertentu. Ilustrasi paling mudah adalah ketika rumah kita basah karena genting yang bocor, kemudian kita berusaha untuk mengepel yang basah tersebut. Jika cukup hanya dengan itu saja upaya kita, maka kita orang yang berpola pikir temporal. Yaitu menyelesaikan masalah yang terlihat saat itu saja, tanpa mau mencari akar permasalahan. Yang terjadi adalah setiap hujan, kita harus mengepel terus, dan bisa kita bayangkan jika setiap permasalahan kita pandang secara temporal, kita akan capek. Maka pola pikir ini tidak dapat kita terima untuk menyelesaikan masalah.
c. Pola pikir tekstual, yaitu pola pikir yang hanya berdasarkan pada teks, penyelesaian permasalahan dengan mengumpulkan berkas-berkas, dokumen, peraturan perundangan, dan lain sebagainya tanpa melihat konteks permasalahan secara nyata. Pola pikir ini dogmatis dan terkesan kolot. Orang yang berpola pikir tekstual, setiap mendapati suatu masalah, akan berkata “sebantar, saya liat dulu ayatnya, hadistnya, undang-undangnya, statutanya, permen nya, keppresnya, dll”. Tanpa dia menyadarinya, bahwa segala teks itu berangkat dari kondisi lapangan. Peraturan itu dibuat berdasar keadaan di lapangan. Ayat dan hadist itu turun, ada asbabunnuzul, ada asbabul wurudnya, ada maslaah di lapangan yang memerlukan tuntunan tuhan, sehingga akhirnya turunlah ayat atau keluarlah hadist rasul. Maka yang paling tepat ketika mendapati masalah, liat dulu apa sebabnya, cari teksnya kemudian selesaikan sesuai dengan konteks yang ada. Banyak kasus di lapangan orang-orang yang ber pola pikir tekstual yang malah membuat masalah semakin runyam di lapangan. Sehingga segala sesuatu harus ada teksnya, ada dasarnya yang benar-benar sesuai. Ada orang lain begini salah, begitu salah, dosa, dan lain sebagainya. Maka orang seperti ini hanya akan melaksanakan apa yang ada di teks. Terkesan kolot dan sangat tidak fleksibel. Jadi pola pikir ini, tidak akan mampu menyelesaikan masalah dengan maksimal, apalagi masalah yang tidak ada di teks, hanya akan diam.
d. Pola pikir integralistrik atau pola pikir kontekstual, adalah pola penyelesaian permasalahan dengan berdasar pada apa yang tersirat, melihat latar belakang permasalahan yang ada, sebab-sebab peristiwa, melihat pola pemikiran kontemporer yang berkembang, dan melihat keterkaitan masalah tersebut dengan masalah lain. Berangkat dari ilustrasi mudah di atas, orang yang berfikir kontekstual, akan melihat masalah dengan mencari akr sebab permasalahannya, kemudain menguraikannya satu persatu, serta memikirkan akibatnya terkait upaya yang dia lakukan. Dia akan mencari genting yang pecah, kemudian memilih genting yang kira-kira tidak mudah rusak dan pecah, kemudian memasangnya dengan hati-hati agar tidak bocor. Selain itu juga mengecat genting dengan pelapis anti bocor, agar kemungkinan terulangnya kasus bocor menjadi berkurang. Pola ini mendekati penyelesaian yang sempurna secara parsial.
e. Pola pikir integralistrik yaitu pola pikir dengan mencoba mengaitkan antara satu permasalahan dengan permasalahan lain, semakin banyak permasalahan yang terkait dengan permasalahan tersebut dengan kaitan yang logis dan realistis, semakin bagus pula pola penyelesaian yang diusulkan.
f. Pola pikir sistem adalah konsep penyelesaian permasalahan yang tertinggi, yaitu diawali dengan mengidentifikasi permasalahan kejadian-kejadian dan elemen yang terkait, selanjutnya mengolah kejadian tersebut dalam bentuk tren atau kecenderungan perkembangan pada tiap elemen-elemen tersebut.


Sistem berasal dari bahasa Latin Systema, dari istilah Yunani yang berarti pencampuran menyeluruh beberapa bagian atau anggota. Dalam istilah yang lebih populer, sistem dikenal sebagai susunan interaksi atau ketergantungan internal komponen dari sistem yang membentuk integrasi yang menyeluruh.
Karakteristik dari sistem secara umum antara lain :
- Sistim mempunyai struktur, yang didefinisikan sebagai komponen dan komposisinya.
- Sistim mempunyai tingkah laku, yang terdiri dari input, proses dan output material, energi, informasi, atau data.
- Sistim mempunyai hubungan saling keterkaitan satu sama lain. Beberapa bagian dari sistem mempunyai fungsi seperti hubungan struktur diantara satu sama lain.
- Sistim mungkin mempunyai beberapa fungsi kelompok atau kelompok fungsi.
Segala yang ada di jagad alam raya ini adalah mengikuti karakteristik dan kaidah sistim di atas. Alam raya adalah sistem, bumi adalah sistem, galaksi bima sakti adalah sistem, negara adalah sistem, propinsi, kabupaten, RT, RW, kelurahan, keluarga, individu, tubuh manusia, hewan bahkan sebuah sel amoeba adalah sistem.
Sebuah ilustrasi kecil, sekolah, merupakan sistem. Sistem dikatakan mempunyai struktur, yaitu komponen-komponen penyusunnya. Sebuah sekolah akan terdiri dari siswa, guru, kepala sekolah, gedung sekolah, Tata usaha, kepal sekolah, tukang kebun dan lain sebagainya. Jika komponen-komponen tersebut ada yang tidak terisi atau hilang, maka akan berkurang keseimbangan sistem. Contohnya seorang yang bertugas memencet bel ketika ganti pelajaran tidak berangkat atau telah pensiun, sedangkan dalam sistem tersebut tidak atau belum ada yang bisa menggantikan, maka sistem akan goncang dalam metabolismenya. –pelajaran akan kacau, kadang telat, kadang kelupaan tidak dipencet bel. Akibatnya keseluruhan aktivitas dalam sistem akan ikut terkena imbasnya. Kalau toh ada pengganti, maka dia adalah komponen baru, yang akan butuh waktu untuk menyesuaikan dengan kebiasaan metabolisme sistem tersebut. Jadi dalam sebuah sistem, agar metabolisme berjalan dengan baik, setiap komponen harus berfungsi sesuai dengan amanahnya. Tidak boleh ada komponen yang dianggap remeh atau tidak penting, karena setiap komponen adalah penting, hatta seorang office boy sekalipun, tidak boleh dianggap remeh. Meskipun porsi dari tiap-tiap elemen akan berbeda, atau dalam istilah menterengnya prioritasnya antar satu komponen dengan komponen lain akan berbeda. Jika seorang guru senior tidak datang, sementara beliaulah yang biasa memegang peran dalam sekolah tersebut, maka tidak sembarang orang mampu untuk mengganti peran beliau. Dalam keadaan begini mekanisme sistem akan goyah.
Sistem juga mempunyai input, output, proses metabolisme, membutuhkan energi, sinergi dan sharing. Dalam suatu sekolah, harus ada input masuk siswa tiap tahunnya, tanpa ada siswa yang sesuai dengan kuantitas dan kualitas yang diharapkan, sistem akan goyah. Terkait dengan uang pendaftaran yang masuk, semangat para guru dan siswa, jika jumlah siswa yang masuk banyak, maka setiap komponen akan merasa terlecut berbuat semaksimal mungkin untuk metabolisme suatu sistem. Selain input perlu juga diperhatikan adanya output yang sesuai dengan harapan. Kualitas lulusan dengan nilai UN yang tinggi, jumlah ketidaklulusan yang sedikit adalah kondisi yang dibutuhkan oleh sistem. Karena jika ada sesuatu yang harusnya keluar tetapi tidak mampu untuk keluar, dia akan menjadi residu atau sampah, dalam sebuah mesin dia akan menjadi lumpur mesin, dalam sebuah sistem metabolisme tubuh dia adalah kolesterol, yang harus diantisipasi kemunculannya. Dalam sebuah sistem juga butuh energi, berupa finansial maupun energi positif berupa motivasi ruhiyah dan jasadiyah. Apa jadinya jika dalam sebuah sekolah 50% saja yang membayar SPP tepat waktu, maka keuangan di sekolah akan goyah, dan begitu seterusnya. Begitu juga jika dalam sebuah sekolah tidak terdapat sarana temu muka antara siswa dengan guru dari hati ke hati, atau pengarahan dalam upacara untuk memotivasi siswa, maka sekolah seakan kehilangan ruh nya sebagai lembaga pendidikan, begitu seterusnya
Sistem harus mempunyai hubungan yang harmonis satu sama lain, interaksi dan sinergi satu sama lain antar komponen-komponen penyusunnya. Seorang kepala sekolah bersinergi tidak hanya dengan wakasek saja, namun juga dengan siswa, dengan office boy, dengan penjaga malam, dengan penjaga kantin, dengan guru dan lain sebagainya. Jika ada salah satu komponen yang menutup diri dan menutup sinergi interaksi, maka sistem akan goyah. Akan ada transfer informasi yang terputus dan menyebabkan metabolisme sistem tidak sehat. Contoh kecil kadang dirasa tidak relevan atau sepele namun masuk akal, ketika ada ketidakharmonisan sistem antara seorang guru dengan penjaga kantin. Maka si guru akan malas untuk makan siang di kantin, akibatnya ketika mendapatkan jatah mengajar jam siang, akan terlihat lesu dan tidak bersemangat. Atau mungkin dia akan pulang ke rumah untuk makan siang, akibatnya terlambat untuk mengisi pelajaran, dan ini membuat metabolisme sistem menjadi goyah.
Intinya adalah ketika kita memahami dengan seksama pola pikir sistemik (systemic thinking) dalam hidup dan kehidupan, segala permasalahan akan terselesaikan secara sistem juga. Selanjutnya mengenai pola pikir sistem ini akan saya tulis dalam tulisan saya berikutnya, yaitu mengenai detail karakteristik sistem, environment sistem, detail perilaku sistem, dan segala yang berkaitan tentang pola pikir kesisteman dalam kehidupan kekinian.

Selasa, 12 Oktober 2010

Systemic Thinking isme

Dalam dunia dakwah, sering kita harus menjawab segala pertanyaan mad'u dengan jawaban yang santun, sesantun-santunnya, dan se ramah-ramahnya. Dengan tujuan mereka simpatik kepada Islam, dan mau mempelajari lebih jauh tentang syariah Islam. Orang yang baru saja mengenal Islam, atau kadang juga orang yang sudah Islam, tetapi belum terlalu konsisten melaksanakan syariah, atau Remaja-rmaja yang baru berhijrah, kemudian bertanya tentang FAQ in Islam, maka jawablah dengan jawaban yang tepat.

Seorang ustadz ditanya oleh jama'ahnya yang sangat plural, dengan berbagai pertanyaan sesuai dengan derajat pengetahuan, umur, profesi dan kebiasaan mereka.

Ustadz :"Baik, para jama'ah sekalian, apakah ada pertanyaan yang ingin dilontarkan terkait hal apapun yang masih mengganjal tentang Islam??".

Seorang Bapak2 bertanya, "Saya Tadz, mau nanya, kalo saya merokok boleh tidak tadz dalam Islam? sebab kata di berita2 itu, Rokok diharamkan sama MUI?"

Ustadz, "Baik, pertanyaan yang bagus, saya harap jawaban ini nanti juga merepresentasikan pertanyaan2 bapak2 yang ingin bertanya serupa. JAdi begini penjelasannya, merokok itu dibolehkan dalam Islam. Asalkan ada manfaatnya. Jika nggak ada manfaatnya, ya jangan dikerjakan. Hmmmm, terus adalagi syarat yang lain pak. Yaitu rokok boleh jika Rokok itu tidak membahayakan kesehatan, serta tidak perlu beli, alias tidak bikin kita jadi konsumtif. Dan yang terakhir, rokok itu harus tidak bertuliskan "merokok dapat menyebabkan gangguan kanker, gangguan kehamilan dan jantung", nah jika bertuliskan begitu, berarti rokok itu nggak boleh bapak konsumsi. jadi mulai besok cari Rokok yang 1. Rokok Bermanfaat, 2. Yang membuat kita sehat, wal afiyat, 3. Yang gratis, alias gratong, jadi gak boros, dan yang terakhir 4. Roko itu tidak bertuliskan "merokok dapat menyebabkan gangguan kanker, gangguan kehamilan dan jantung", Oke? bisa dipahami ya pak? Selamat mencari untuk besok."

Ustadz, "Baik, adakah pertanyaan lain pak buk,?"

Seorang Ibu2 bertanya, " Gini pak Ustadz, kami2 ini kan suka banget ame yang namenye inpotainment tuch, nach..boleh nggak tuch kite2 selalu istiqomah ame nyang namenye inpotaiment itu??, dosa kagak pak ustadz?"

Ustadz, "Wah, pertanyaan nyang bagus tuch, boleh aje bu, ape2 nyang dilakuin Istikomah, itu bagus. Termasuk ngeliat inpotainment itu. Terus ada tambahan lagi nich bu, Inpotainment itu harus tidak boleh membicarakan aib2 selebritis yang kagak penting. Jadi inpotainment itu musti ngebahas nyang penting dan nyang bagus2 aje. So Inpotainment nyang ngomongin perceraian, perselingkuhan, ame nyang jelek2 kagak usah di tonton ye?? Jadi mulai besok, cari tuch, inpotainment yang kayak gituan. Oke silakan mencari mulai besok ya ibu- ibu??".

Ustadz, "baik, adakah nyang lain?"

Seorang remaja bertanya, "Ustadz, singkat saja pak, kalo saya masuk ISlam, pacar saya bagaimana pak? masih boleh diteruskan nggak hubungan kami ini?"

Ustadz, "Baik, saya harap ini pertanyaan terakhir, karena waktu sudah malam, begini dik, Nggak ada yang ngelarang pacaran, bahkan jaman rasulullah malah nggak ada istilah itu, cari di kamus arab juga nggak ada. Boleh pacaran asal caranya gini: 1. Nggak boleh boncengan, 2. nggak boleh megang, 3. Nggak boleh berduaan saja tanpa ada temen lain, 4. Nggak boleh ngeliat lama2, 5. Nggak boleh sering2 maen ke kos atau ke rumahnya tanpa ada urusan yang penting, baik, so, silakan nyari pacar yang mau dengan syarat ini.

dari sedikit percakapan itu, dalam menjawab mad'u, maka carilah sisi positif Islam, sehingga tanpa perlu kita seakan menggurui tentang dibaik hkmah syariah Islam, merek bisa tau dari syarat2 yang kita berikan.

WAB,
By Ashaabulmarhamh

Senin, 11 Oktober 2010

Systemic Thinking isme

Seekor kelinci sedang duduk santai di tepi pantai.

Tiba tiba datang seekor rubah jantan besar yang hendak memangsanya.
Lalu kelinci itu berkata : "Kalau memang kamu berani, hayo kita
berkelahi di dalam lubang kelinci. Yang kalah akan jadi santapan yang
menang, dan saya yakin saya akan menang."

Sang Rubah jantan merasa tertantang, "Dimanapun jadi, Masa sih kelinci
bisa menang melawan aku ?"

Merekapun masuk ke dalam sarang kelinci. Sepuluh menit kemudian sang
kelinci keluar sambil menggenggam Setangkai paha rubah dan melahapnya
dengan nikmat.

Sang Kelinci kembali bersantai, sambil memakai kaca mata hitam dan topi pantai.

Tiba tiba datang se-ekor serigala besar yang hendak memangsanya. Lalu
kelinci berkata : "Kalau memang kamu berani, hayo kita berkelahi di
dalam lubang kelinci. Yang kalah akan jadi santapan yang menang, dan
saya yakin saya akan menang."

Sang serigala merasa tertantang, " Dimanapun jadi, Masa sih kelinci
bisa menang melawan aku ?"

Merekapun masuk ke dalam sarang kelinci. Lima belas menit kemudian
sang kelinci keluar sambil menggenggam Setangkai paha serigala dan
melahapnya dengan nikmat.

Sang kelinci kembali bersantai, Sambil memasang payung pantai dan
merebahkan diri diatas pasir.

Tiba tiba datang se-ekor beruang besar yang hendak memangsanya. Lalu
kelinci berkata :" Kalau memang kamu berani, hayo kita berkelahi di
dalam lubang kelinci. Yang kalah akan jadi santapan yang menang, dan
saya yakin saya akan menang."

Sang Beruang merasa tertantang, " Dimanapun jadi, Masa sih kelinci
bisa menang melawan aku ?"

Merekapun masuk ke dalam sarang kelinci. Tiga puluh menit kemudian
sang kelinci keluar sambil menggenggam setangkai paha Beruang dan
melahapnya dengan nikmat.

Pohon kelapa melambai lambai. Lembayung senja sudah tiba, habis sudah
waktu bersantai.

Sang Kelinci melongok kedalam lubang kelinci, sambil melambai "Hai,
keluar, sudah sore, besok kita teruskan !!"

Keluarlah se-ekor harimau dari lubang itu, sangat besar badannya.
Sambil menguap Harimau berkata "Kerjasama kita sukses hari ini, kita
makan kenyang dan saya tidak perlu berlari mengejar kencang."

(Winner selalu berpikir mengenai kerja sama, sementara Looser selalu
berpikir bagaimana menjadi tokoh yang paling berjaya.)

By Rumadi Hartawan
From Indonesian Youth Entrpreneurship

Jumat, 08 Oktober 2010

Systemic Thinking isme

Now, I feel very lukcy, because now, I’m be a part of systemic thinking Society, at Master of Engineering System, Gadjah Mada University. There, we should be a person who always think, act, and practice based on systemic point of view. As we know that our country, our curriculum of study, even our think, based on partial view. Such as, if we are a civil engineer, we just start think about everything what we see based on our discipline or our field study. Such as me, when I was having Journey to Suramadu bridge, or Paragon Solo Building, I just think and analyse their structure, the program that used to analyse that buillding, etc. But actually the case is many many field and several things there. We can see it at the geologic system, the material system, the social and culture efect. Altough we are civilian people. So its important to create man who always think systemic than partial, or only see the problem on one view. So that we can feel that our live is colour fully and make us always interest to be an expert in every field of study, or just be a person whos know about everything, even just the basical concept.



So, as a muslim, as a person with never ending learning vibration, THINK LOCALLY and GLOBALLY, ACT LOCALLY and GLOBALLY.